TANAMAN TEMULAWAK
TEMULAWAK
1. SEJARAH SINGKAT
Temulawak merupakan tanaman obat berupa rumpun
berbatang semu. Temulawak ( Curcuma Xanthorrhiza
Roxb ) merupakan salah satu tanaman obat unggulan yang memiliki khasiat
multifungsi. Rimpang induk temulawak berbentuk bulat seperti telur dan berwarna
kuning tua atau coklat kemerah merahan dimana bagian dalamnya berwarna jingga
kecoklatan ( afifah dkk, 2003 ).
Temulawak banyak dijumpai di Asia Tenggara khususnya
di indonesia, diindonesia sendir penyebutan temulawak berbeda beda, misalnya di
daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai “Koneng
Gede” sedangkan di madura disebut dengan sebagai “temu lobak” ,
Penyebaran tanaman temulawak mulai dari Asia
tenggara, Indonesia dan Malaysia
merupakan tempat dimana temulawak ini menyebar keseluruh dunia. Saat ini
tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat dijumpai di cina, Indo cina ,
Bardabos, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa ( Raharjo,
dkk, 2003 ).
2. KLASIFIKASI
Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga
lebih dari 1 M tetapi kurang dari 2 m, berwarna hijau atau coklat tua. Akar rimpang
terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang
mempunyai daun 2 -9 hel;ai dengan berbentuk bundar memanjang sampai bangun
lanset, warna hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 –
84 cm dan lebar 10 -18 cm panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm (
Dalimarta, 2003).
Perhubungan lateral, tangkai ramping dan sisik
berbentuk garis panjang tangkai 9 -23 cm dan lebar 4 -6 cm, berdaun pelindung
banyak yangpanjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelompok bunga
berwarna putih berbulu, panjang 8- 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan
panjang keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna
putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25 – 2 cm dan
lebar 1 cm ( kemala dkk, 2003 ) .
Adapun
menurut Dalimarta 2003 Klasifikasi temulawak adalah sebagai berikut :
a. Devinisi : Spermatophyta
b. Sub
devisi : Angiospermae
c. Kelas : Monocotyledonae
d. Ordo : Zingiberales
e. Keluarga : Zingiberaceae
f. Genus : Curcuma
g. Spesies : Curcuma Xanthorrhiza Roxb
3. MANFAAT
Banyak sekali manfaat dari tanaman ini, Di Indonesia
satu satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temulawak untuk dibuat
jamu “godong” ( kemala dkk, 2003 ). Rimpang temulawak ini mengandung 48 – 59,64%
zat tepung, 1,6 – 22% kurkumin dan 1,48 – 1,63% minyak asiri dan dipercaya
dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi ( anomim, 2002). Manfaat lain
dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan,
anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker, anti
mikroba ( purnomowati, 2008 ) bagian yang diambil dari temulawak untuk mengatasi
kesulitan makan pada anak adalah rimpangnya. Rimpangnya temulawak bercabang
cabang. Pada bagian dalam berwarna kuning sedangkan bagian luar berwarna kuning
muda ( winarno, 1997 ) .
4. KOMPONEN BIOTIF PADA TEMULAWAK
Tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional
mempunyai aktivitas biologic karena dalam tumbuhan tersebut terkandung berbagai
senyawa kimia, khususnya metabolit sekunder yang dapat mempengaruhi sel sel
hidup organisme. ( Nurcholis, 2008 ). Menurut bermawie 2006 , kandungan kimia
rimpang temulawak yang memberi arti pada penggunanya sebagai sumber bahan
pangan, bahan baku industry, atau bahan baku obat dapat dibedakan atas beberapa
fraksi, yaitu :
a.
Fraksi
Pati
Pati merupakanm salah
satu komponen yang cukup besar dari temulawak, berbentuk serbuk, warna putih
kekuningan karena mengandung spora kurkuminoid, mempunyai bentuk bulat telur
sampai lonjong dengan salah satu ujungnya persegi, ukuran antara 33 hingga 100µm
dengan ukuran rerata 60 µm, letak hilus tidak sentral, terdapat lele;a yang
tidak konsentris. Bentuk pati temulawak
ini demikian khasnya sehingga digunakan sebagai salah satu unsur pengeal untuk
identifikasi simplisia rimpang temulawak ( Bermawaie, 2006 ).
b.
Fraksi
Kurkuminoid
Kurkuminoid
rimpang temulawak adalah zat yang terdiri dari campuran komponen senyawa yang
bernama kurkumin dan desmetoksi kurkumin, mempunyai warna kuning jingga,
berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit, larut dalan aseton, alcohol, asam
asetat glasial dan alkali hidroksida ( afifah dkk, 2003 ). Kurkumin tidak larut
dalam air dan dietileter. Kurkuminoid mempunyai aroma khas, tidak bersifat
toksik.
Kurkumin
mempunyai rumus molekul C₂₁H₂₀O₆ ( Bobot molekul = 368 ) sedangkan desmotoksi
kurkumin mempunyai rumus molekul C₂₁H₂₀O₆ dengan bobot molekul 385 ( Barmawie, 2006 ).
Sifat
kimia kurkuminoid yang menarik adalah sifat perubah warna akibat perubahan pH Lingkungan. Dalam suasana asam,
kurkuminoid berwarna kuning atau kuning jingga, sedangkan dalam suasana basa
berwarna merah. Keunikan lain terjadi pada sifat kurkumin dalam suasana basa,
karena selain terjadi proses disosiasi, pada suasana basa kurkunin dapat
mengalami degradasi membentuk asam ferulat dan ferulloilmetan ( Barnawie, 2006
)
Degradasi
ini terjadi bila kurkumin berada dalam lingkungan pH 8,5 – 10 dalam waktu yang relative
lama , walaupun hal ini tidak berarti bahwa dalam waktu yang relative singkat
tidak terjadi degradasi urkumin, karena proses degradasi sangat dipengaruhi
juga oleh suhu lingkungan.
Salah
satu hasil degragadi yaitu feruloilmetan mempunyai warna kuning coklat yang
akan mempengaruhi warna merah yang seharusnya terjadi. Sifat kurkuminoid lain
yang penting adalah aktifitanya terhadap cahaya. Bila kurkumin terkena cahaya
akan terjadi dekomposisi stuktur berupa siklisasi kurkumin atau terjadi
degradasi stuktur ( hernani, 2001 ).
Demikian
sedikti pembahasan tentang temulawak yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia
.
Komentar
Posting Komentar